Hello, bagaimana kami bisa membantu Anda?
Dapatkan dukungan yang Anda butuhkan untuk sukses dengan Mertani. Jelajahi pusat bantuan kami, kontak kami, atau telusuri dokumentasi kami untuk menemukan jawaban dengan cepat.
API Mertani memungkinkan integrasi data IoT dari perangkat di lapangan
Ajukan pertanyaan langsung kepada support Mertani
Frequently Asked Questions
Find answers to common questions about Mertani dashboard app
API Technical Specifications
Metode otentikasi apa saja yang didukung?
Mertani API menggunakan Basic Authentication sebagai metode autentikasi utama.
Setiap request harus menyertakan header:
api_keyberfungsi sebagai usernamesecret_keyberfungsi sebagai password- Authentication bersifat stateless (tidak menggunakan session atau token)
Untuk keamanan:
- Gunakan HTTPS di semua request
- Jangan expose API key di frontend
- Simpan credential di environment variables
Bagaimana batas frekuensi / rate limit dihitung?
Saat ini, rate limit tidak selalu diekspos secara eksplisit, namun sistem menerapkan mekanisme proteksi untuk menjaga stabilitas.
Secara umum:
- Request berulang dalam waktu singkat dapat dibatasi
- Polling berlebihan dapat menyebabkan throttling
- Beban tinggi dari satu API key dapat memicu pembatasan sementara
Best practice:
- Gunakan interval request sesuai interval device (misalnya 1 jam)
- Hindari polling setiap detik
- Gunakan caching di sisi client
Untuk kebutuhan high-frequency access, disarankan menggunakan Webhook API.
Endpoint API apa saja yang tersedia?
Mertani menyediakan beberapa kategori endpoint utama:
1. Device API
- Mendapatkan daftar device
- Informasi detail device
2. Sensor Data API
- Data sensor terbaru
- Data historis berdasarkan timestamp
Semua endpoint berada di bawah base URL:
Struktur endpoint mengikuti prinsip REST:
GET /devicesGET /devices/{id}
(Detail endpoint dapat berbeda tergantung konfigurasi instansi)
Format apa saja yang didukung?
API Mertani menggunakan format standar industri untuk pertukaran data:
Request:
- Header: JSON / HTTP standard
- Authentication: Basic Auth
Response:
- Format utama: JSON
- Encoding: UTF-8
- Timestamp: ISO 8601 / Unix timestamp (tergantung endpoint)
Contoh response:
JSON dipilih karena:
- Ringan dan mudah diparse
- Kompatibel dengan hampir semua bahasa pemrograman
- Ideal untuk REST API
Apakah API ini bersifat real-time?
Secara default, API Mertani tidak bersifat real-time per detik, melainkan mengikuti interval pengiriman data dari device.
- Umumnya interval:
1 jamsekali - API hanya menyajikan data yang sudah tersimpan di database
Untuk kebutuhan real-time:
- Gunakan Webhook API (push-based)
- Atau lakukan polling dengan interval yang disesuaikan
Apakah saya dapat mengakses perangkat secara langsung?
Tidak.
Arsitektur Mertani bersifat decoupled, sehingga:
- Client tidak pernah berkomunikasi langsung dengan device
- Semua akses harus melalui API
- Data diambil dari database, bukan dari perangkat secara live
Ini memastikan:
- Keamanan sistem
- Konsistensi data
- Skalabilitas
Bagaimana konsistensi data dijamin?
Data yang masuk ke Mertani melalui beberapa tahap:
- Validasi device
- Validasi format data
- Normalisasi
- Penyimpanan ke database
Sistem juga menggunakan timestamp dari device sebagai referensi utama.
Namun:
- Delay dapat terjadi jika jaringan tidak stabil
- Data duplikat bisa terjadi jika device retry
Disarankan untuk melakukan validasi tambahan di sisi client.
Apa yang terjadi jika permintaan saya gagal?
API akan mengembalikan HTTP status code standar:
- 200 → Success
- 400 → Bad request
- 401 → Unauthorized
- 403 → Forbidden
- 500 → Server error
Best practice:
- Implementasikan retry mechanism
- Logging error response
- Validasi request sebelum dikirim
Kapan sebaiknya saya menggunakan REST API dan kapan Webhook?
Gunakan:
REST API jika:
- Membutuhkan data historis
- Membangun dashboard
- Kontrol penuh terhadap request
Webhook jika:
- Membutuhkan data real-time
- Ingin sistem event-driven
- Menghindari polling
Dalam banyak kasus, kombinasi keduanya adalah pendekatan terbaik.
Data tidak muncul di API
Kemungkinan penyebab:
- Perangkat belum mengirim data
- Interval pengiriman belum tercapai
Solusi:
- Periksa status device
- Tunggu hingga siklus pengiriman berikutnya
Data terlambat muncul
Kemungkinan penyebab:
- Jaringan perangkat tidak stabil
- Delay pada proses ingestion
Solusi:
- Periksa konektivitas device
- Validasi timestamp data
Data tidak konsisten
Kemungkinan penyebab:
- Sensor error atau tidak terkalibrasi
- Data duplikat atau missing
Solusi:
- Lakukan kalibrasi sensor
- Validasi data di level aplikasi
API tidak mengembalikan data terbaru
Kemungkinan penyebab:
- Request tidak menggunakan parameter waktu terbaru
- Cache pada client
Solusi:
- Gunakan filter timestamp terbaru
- Disable cache jika diperlukan
Data tidak masuk ke sistem external (Webhook)
Kemungkinan penyebab:
- Endpoint tidak dapat diakses (down / timeout)
- URL webhook salah
Solusi:
- Periksa endpoint server Anda
- Validasi URL dan response status (200 OK)
REST API tidak mengembalikan data terbaru
Kemungkinan penyebab:
- Polling terlalu cepat sebelum data tersedia
- Parameter waktu tidak sesuai
Solusi:
- Sesuaikan interval polling dengan device
- Gunakan filter timestamp terbaru
Webhook mengirim data duplikat
Kemungkinan penyebab:
- Retry dari server karena response gagal
- Tidak ada deduplication di client
Solusi:
- Implementasikan idempotency di sisi client
- Simpan unique identifier data
Server client overload karena webhook
Kemungkinan penyebab:
- Volume data tinggi
- Endpoint tidak scalable
Solusi:
- Gunakan queue system (Kafka, RabbitMQ, dll)
- Tambahkan rate limiting atau buffering
401 Unauthorized
Kemungkinan penyebab:
- Header Authorization tidak ada
- Format Basic Authentication salah
- Base64 encoding tidak valid
Solusi:
Pastikan header dikirim dengan benar Periksa format: api_key:secret_key sebelum encoding Generate ulang Base64
403 Forbidden
Kemungkinan penyebab:
- API key tidak memiliki akses ke resource
- API key telah dicabut
Solusi:
Periksa permission API key Hubungi pihak Mertani jika diperlukan
Request berhasil tapi data kosong
Kemungkinan penyebab:
- API key tidak memiliki akses ke data tertentu
- Parameter request tidak sesuai
Solusi:
Validasi endpoint dan parameter Periksa scope akses API key
Kredensial bocor atau tidak aman
Kemungkinan penyebab:
- API key tersimpan di frontend
- Repository tidak diamankan
Solusi:
Segera rotasi API key Pindahkan kredensial ke server-side Gunakan secret manager jika tersedia
App Dashboard Mertani
Undangan tidak diterima
Kemungkinan penyebab:
- Email salah atau tidak aktif
- Email masuk ke folder spam
Solusi:
- Periksa kembali alamat email
- Minta pengguna cek folder spam atau promotion
- Kirim ulang undangan jika tersedia
User tidak bisa login setelah invite
Kemungkinan penyebab:
- Proses aktivasi belum selesai
- Password belum diterima melalui email
Solusi:
- Pastikan pengguna telah membuka link undangan
- Minta pengguna terima undangan
User tidak muncul di daftar pengguna
Kemungkinan penyebab:
- Invite belum diproses sepenuhnya
- Halaman belum diperbarui
Solusi:
- Refresh halaman
- Periksa kembali status undangan
Role tidak sesuai setelah login
Kemungkinan penyebab:
- Salah memilih role saat invite
- Perubahan belum tersimpan
Solusi:
- Gunakan fitur Assign Role untuk memperbaiki
- Pastikan konfigurasi role benar saat invite
Perubahan tidak tersimpan
Kemungkinan penyebab:
- Form belum diisi dengan benar
- Validasi sistem gagal
Solusi:
- Pastikan semua field wajib sudah diisi
- Periksa kembali format data
Data tidak berubah setelah disimpan
Kemungkinan penyebab:
- Cache browser belum diperbarui
- Gangguan sinkronisasi
Solusi:
- Refresh halaman
- Coba login ulang jika diperlukan
Tidak bisa mengedit pengguna
Kemungkinan penyebab:
- Tidak memiliki permission yang cukup
- Akun dibatasi oleh sistem
Solusi:
- Gunakan akun dengan akses lebih tinggi
- Periksa kebijakan sistem terkait akses edit
Nomor HP tidak valid
Kemungkinan penyebab:
- Format nomor tidak sesuai
- Mengandung karakter yang tidak diperbolehkan
Solusi:
- Gunakan format nomor yang benar (angka saja atau sesuai standar sistem)
- Hindari spasi atau simbol tambahan
User tidak melihat device apapun
Kemungkinan penyebab:
- Tidak ada device yang dipilih saat konfigurasi
Solusi:
- Edit kembali akses device
- Pastikan minimal satu device dipilih
Device tidak muncul di daftar pilihan
Kemungkinan penyebab:
- Device belum terdaftar dalam sistem
- Device berada di instansi berbeda
Solusi:
- Pastikan device sudah dibuat dan aktif
- Periksa kembali scope instansi
Perubahan tidak terlihat di dashboard
Kemungkinan penyebab:
- Cache browser belum diperbarui
- Session belum sinkron
Solusi:
- Refresh halaman
- Logout dan login kembali jika diperlukan
User masih bisa akses device lain
Kemungkinan penyebab:
- Pembatasan belum tersimpan dengan benar
- Ada konflik dengan konfigurasi lain
Solusi:
- Ulangi proses dan pastikan klik simpan
- Validasi kembali konfigurasi akses user
Role tidak muncul saat assign user?
- Pastikan role sudah berhasil disimpan
- Refresh halaman atau reload sistem
Role tidak memiliki akses?
- Pastikan permission sudah dikonfigurasi
- Periksa apakah ada override dari sistem lain
Gagal membuat role?
- Pastikan nama role tidak duplikat
- Periksa koneksi atau validasi input
Tidak bisa mengubah nama role
Kemungkinan penyebab:
- Role merupakan role default atau dilindungi sistem
- Anda tidak memiliki permission yang cukup
Solusi:
- Gunakan akun dengan akses lebih tinggi
- Periksa apakah role termasuk protected role
Nama role tidak bisa disimpan
Kemungkinan penyebab:
- Nama role sudah digunakan (duplikat)
- Input tidak valid (kosong atau karakter tidak diperbolehkan)
Solusi:
- Gunakan nama yang unik
- Pastikan format nama sesuai aturan sistem
Perubahan tidak terlihat
Kemungkinan penyebab:
- Cache browser belum diperbarui
- Sinkronisasi data tertunda
Solusi:
- Refresh halaman
- Logout dan login kembali jika diperlukan
User bingung dengan perubahan nama role
Kemungkinan penyebab:
- Tidak ada komunikasi perubahan
- Nama baru tidak cukup jelas
Solusi:
- Informasikan perubahan kepada pengguna terkait
- Gunakan nama yang lebih deskriptif dan familiar
Perubahan tidak terlihat?
- Pastikan halaman telah di-refresh
- Periksa apakah cache browser mempengaruhi tampilan
Akses pengguna tidak sesuai setelah perubahan?
- Validasi kembali konfigurasi permission pada role
- Pastikan tidak ada konflik konfigurasi
Tidak bisa mengubah role?
- Periksa apakah Anda memiliki permission yang cukup
- Pastikan role tujuan tidak dibatasi oleh sistem
Tidak bisa menghapus role
Kemungkinan penyebab:
- Role masih digunakan oleh satu atau lebih pengguna
- Role termasuk role default sistem
Solusi:
- Pindahkan semua pengguna ke role lain melalui fitur Assign Role
- Pastikan role bukan bagian dari role bawaan sistem
Role tidak muncul dalam daftar
Kemungkinan penyebab:
- Data belum ter-refresh
- Role sudah dihapus sebelumnya
Solusi:
- Refresh halaman
- Periksa kembali dengan filter atau pencarian
Aksi hapus tidak tersedia
Kemungkinan penyebab:
- Anda tidak memiliki permission untuk menghapus role
- Role dilindungi oleh sistem (protected role)
Solusi:
- Gunakan akun dengan akses lebih tinggi (misalnya Admin)
- Periksa kebijakan sistem terkait role yang tidak bisa dimodifikasi
Terjadi kesalahan saat konfirmasi
Kemungkinan penyebab:
- Gangguan koneksi
- Validasi sistem gagal
Solusi:
- Coba ulangi proses beberapa saat kemudian
- Pastikan koneksi stabil
User tidak bisa mengakses fitur tertentu
Kemungkinan penyebab:
- Permission belum diberikan pada role
- Role yang digunakan tidak sesuai
Solusi:
- Periksa dan tambahkan permission yang diperlukan
- Validasi role pengguna
Aksi ditolak meskipun tombol tersedia
Kemungkinan penyebab:
- UI menampilkan tombol, tetapi permission backend tidak mengizinkan
Solusi:
- Periksa konfigurasi permission di sistem
- Pastikan aksi yang dipilih sudah diaktifkan
Perubahan permission tidak terlihat
Kemungkinan penyebab:
- Cache browser belum diperbarui
- Sinkronisasi session belum terjadi
Solusi:
- Refresh halaman
- Logout dan login kembali jika diperlukan
Semua user dalam role terkena dampak perubahan
Penjelasan:
- Permission berlaku global untuk role
Solusi:
- Buat role baru jika membutuhkan variasi akses
- Hindari perubahan langsung pada role yang digunakan banyak user
Kenapa hasil kalibrasi tidak berubah setelah saya simpan?
Kemungkinan penyebab:
- Kalibrasi hanya berlaku untuk data baru, bukan data historis
- Tidak ada data baru yang masuk setelah kalibrasi disimpan
- Rumus tidak valid sehingga tidak dieksekusi
Solusi:
- Pastikan device mengirim data terbaru
- Cek timestamp data terakhir
- Periksa kembali rumus (hindari typo atau format salah)
Kenapa nilai hasil kalibrasi menjadi 0 atau null?
Kemungkinan penyebab:
- Rumus menghasilkan nilai tidak valid (misalnya pembagian dengan 0)
- Referensi parameter [parameter] tidak ditemukan
- Dataset tidak mengembalikan nilai (lookup gagal)
Solusi:
- Validasi rumus secara manual
- Pastikan ID sensor atau parameter benar
- Pastikan dataset memiliki range nilai yang sesuai dengan input
Kenapa muncul error saat input rumus kalibrasi?
Kemungkinan penyebab:
- Salah syntax (contoh: x + tanpa nilai lanjutan)
- Salah operator (misalnya ^ вместо **)
- Fungsi tidak didukung atau salah format
Solusi:
- Gunakan operator yang didukung (+ - * / **)
- Pastikan semua tanda kurung seimbang
- Gunakan fungsi sesuai dokumentasi (contoh: sqrt(x))
Kenapa parameter lain tidak bisa dipanggil dengan [parameter]?
Kemungkinan penyebab:
- ID sensor salah atau tidak ada di device yang sama
- Penulisan tidak sesuai format ([id_sensor])
- Sensor belum memiliki data
Solusi:
- Pastikan ID sensor benar (case-sensitive)
- Gunakan fitur = untuk memilih parameter otomatis
- Pastikan sensor referensi aktif dan mengirim data
Kenapa hasil DATASET() tidak sesuai atau kosong?
Kemungkinan penyebab:
- Slug dataset salah
- Kolom output tidak ditemukan
- Nilai input tidak ada dalam range dataset
Solusi:
- Periksa slug dataset sesuai yang disimpan
- Pastikan nama kolom output benar
- Pastikan dataset mencakup seluruh range nilai input (interpolasi jika perlu)
Kenapa hasil kalibrasi terlihat tidak masuk akal (terlalu besar/kecil)?
Kemungkinan penyebab:
- Salah konversi unit (cm ke m, dll)
- Kesalahan dalam rumus (misalnya urutan operasi)
- Referensi parameter yang tidak sesuai
Solusi:
- Validasi dengan perhitungan manual
- Cek kembali unit sebelum dan sesudah kalibrasi
- Gunakan nilai sample untuk testing
Kenapa grafik dan dashboard tidak sesuai dengan raw data?
Ini bukan error.
Penjelasan:
- Sistem menggunakan Sintetik Data (hasil kalibrasi) untuk:
- Dashboard
- Grafik
- Laporan
- Sedangkan Raw Data hanya sebagai referensi
Solusi:
- Bandingkan raw vs sintetik melalui unduh data untuk validasi
- Pastikan rumus kalibrasi sudah benar
Kenapa perubahan units tidak berpengaruh pada nilai?
Penjelasan:
- Units hanya label, tidak mengubah nilai
- Nilai berubah hanya jika rumus kalibrasi diubah
Solusi:
Pastikan rumus sudah sesuai dengan unit baru Contoh:
- cm → m harus menggunakan x/100
- lalu update unit menjadi meter
Kenapa sensor turunan (virtual parameter) tidak muncul di sistem?
Kemungkinan penyebab:
- Kalibrasi belum disimpan
- Parameter tidak digunakan di dashboard
- Tidak ada data masuk
Solusi:
- Klik Simpan setelah input rumus
- Pastikan parameter digunakan di tampilan
- Tunggu data baru masuk
Bagaimana cara memastikan rumus kalibrasi sudah benar sebelum digunakan?
Best practice:
- Uji dengan sample data manual
- Gunakan nilai sederhana terlebih dahulu (misal x/100)
- Bandingkan hasil dengan perhitungan di luar sistem
Tips:
- Hindari langsung menggunakan rumus kompleks tanpa validasi
- Bangun rumus secara bertahap
Apakah sensor turunan (virtual sensor) dapat digunakan sebagai faktor kalibrasi?
Tidak
Parameter turunan (virtual sensor) tidak dapat digunakan sebagai faktor kalibrasi kembali.
Tips:
- Hindari menggunakan parameter turunan sebagai faktor kalibrasi.
- Lakukan kalibrasi yang sama untuk mendapat nilai dari parameter turunan, kemudian kalibrasikan perhitungan tersebut.
Contoh:
- Water level:
120-x - Debit (virtual sensor):
[water_level]*[velocity] - Virtual sensor x:
[debit]*10-> tidak boleh akan error.
Apakah format file dataset harus CSV?
Ya. Sistem hanya menerima file dalam format CSV (Comma-Separated Values).
Solusi:
- Pastikan file berekstensi
.csv - Jika dari Excel, gunakan Export → CSV
Apakah kolom pertama wajib digunakan sebagai referensi?
Ya, kolom pertama wajib menjadi nilai referensi (input lookup).
Penjelasan:
- Sistem akan mencocokkan nilai sensor ke kolom pertama
- Kolom lain hanya digunakan sebagai output
Jika kolom pertama tidak sesuai:
- Lookup akan menghasilkan nilai yang tidak akurat atau kosong
Apakah baris pertama harus header?
Ya, baris pertama wajib berisi header kolom.
Penjelasan:
- Header digunakan sebagai identifier kolom output dalam fungsi
DATASET() - Tanpa header, sistem tidak dapat mengenali kolom hasil
Contoh benar:
Kenapa dataset tidak terbaca setelah upload?
Kemungkinan penyebab:
- Format file bukan CSV
- Tidak ada header di baris pertama
- Struktur kolom tidak sesuai
- File corrupt atau encoding tidak valid
Solusi:
- Pastikan format CSV valid
- Gunakan delimiter koma (,)
- Pastikan file dapat dibuka di editor teks
Kenapa hasil DATASET() kosong atau null?
Kemungkinan penyebab:
- Nilai input tidak ditemukan dalam kolom referensi
- Slug dataset salah
- Nama kolom output tidak sesuai header
Solusi:
- Pastikan nilai input berada dalam range dataset
- Periksa slug dataset
- Gunakan nama kolom output sesuai header (case-sensitive)
Apakah nilai pada kolom referensi harus berurutan?
Sangat disarankan.
Penjelasan:
- Data yang terurut mempermudah proses lookup
- Mengurangi risiko hasil tidak akurat
Best practice:
- Urutkan data secara konsisten (ascending atau descending)
Apakah boleh ada nilai duplikat pada kolom referensi?
Tidak disarankan.
Dampak:
- Sistem dapat menghasilkan output yang tidak konsisten
- Lookup menjadi ambigu
Solusi:
- Pastikan setiap nilai referensi unik
Apakah dataset mendukung interpolasi otomatis?
Tidak selalu.
Penjelasan:
- Sistem melakukan lookup berdasarkan nilai yang tersedia
- Jika nilai tidak ditemukan secara langsung, hasil bisa kosong atau tidak akurat
Solusi:
- Gunakan interval data yang lebih rapat
- Tambahkan nilai di antara (intermediate values) jika diperlukan
Apakah satu dataset bisa memiliki banyak kolom output?
Ya.
Contoh:
water_level,area,volume,flow
Penggunaan:
- DATASET(“slug”, x, “area”)
- DATASET(“slug”, x, “volume”)
Kenapa upload dataset gagal atau error?
Kemungkinan penyebab:
- File terlalu besar
- Format tidak sesuai
- Header kosong atau duplikat
- Encoding tidak standar (bukan UTF-8)
Solusi:
- Gunakan CSV dengan encoding UTF-8
- Pastikan header unik dan tidak kosong
- Periksa batas ukuran file
Apakah perubahan dataset mempengaruhi data lama?
Tidak.
Penjelasan:
- Dataset hanya berlaku untuk data setelah konfigurasi disimpan
- Data historis tidak akan berubah
Bagaimana cara memastikan dataset sudah benar sebelum digunakan?
Checklist:
- Kolom pertama = referensi (input)
- Baris pertama = header
- Tidak ada nilai kosong di kolom referensi
- Range data mencakup nilai sensor
- Tidak ada duplikasi nilai referensi
Best practice:
- Uji dengan beberapa nilai sample
- Bandingkan hasil manual dengan hasil sistem
Device Status
🔴 Device Offline
Kemungkinan Penyebab
- Device mati
- Kehabisan daya
- Gangguan jaringan
- SIM card tidak aktif
- Modem bermasalah
Langkah Pengecekan
- Pastikan device dalam kondisi menyala
- Periksa sumber daya / baterai
- Verifikasi koneksi internet
- Cek kualitas sinyal modem
- Restart device apabila diperlukan
Rekomendasi
Jika device tetap offline lebih dari 24 jam, lakukan pengecekan lapangan.
🟡 Device Delay
Kemungkinan Penyebab
- Koneksi jaringan tidak stabil
- Server mengalami latency
- Interval pengiriman terlalu kecil
- Gangguan modem sementara
Langkah Pengecekan
- Periksa kualitas sinyal
- Pastikan koneksi internet stabil
- Verifikasi interval pengiriman device
- Monitor apakah status berubah menjadi offline
⚪ Device Maintenance
Informasi
Status maintenance biasanya diatur manual oleh admin atau teknisi.
Rekomendasi
- Dokumentasikan aktivitas maintenance
- Nonaktifkan alarm sementara jika diperlukan
- Pastikan status dikembalikan setelah maintenance selesai